PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN





Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia belum benar-benar bebas. Sekutu datang kembali ke Indonesia bersama tentara Belanda (NICA) yang ingin menjajah Indonesia lagi. Rakyat dan tentara Indonesia pun melakukan berbagai perjuangan fisik untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan dengan susah payah. Berikut beberapa pertempuran penting yang menunjukkan semangat dan keberanian rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

1. Perjuangan Fisik (Konfrontasi)

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, kemerdekaan Indonesia tidak langsung diakui oleh Belanda. Belanda yang tergabung dalam NICA (Netherlands Indies Civil Administration) kembali ke Indonesia dengan tujuan menguasai Indonesia kembali karena menganggap Indonesia masih sebagai wilayah jajahannya.

Kedatangan NICA yang diboncengi oleh pasukan Sekutu menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia. Hal ini karena Belanda bertindak sewenang-wenang, seperti melucuti senjata rakyat dan tentara Indonesia serta menangkap tokoh-tokoh perjuangan. Akibatnya, rakyat Indonesia melakukan perlawanan secara fisik atau konfrontasi untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pada masa awal kemerdekaan, tentara Indonesia dikenal dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Bersama rakyat, TKR melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda dan Sekutu di berbagai daerah. Perjuangan ini menunjukkan semangat persatuan antara rakyat dan tentara dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu peristiwa perjuangan fisik yang terkenal adalah Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Pertempuran ini terjadi karena rakyat Surabaya menolak kedatangan pasukan Sekutu dan NICA. Dengan persenjataan yang terbatas, rakyat dan TKR tetap berjuang dengan berani. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Selain di Surabaya, perjuangan fisik juga terjadi di daerah lain, seperti Pertempuran Medan Area di Sumatra Utara, Bandung Lautan Api di Jawa Barat, dan Palagan Ambarawa di Jawa Tengah. Perlawanan-perlawanan tersebut menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di berbagai daerah memiliki semangat yang sama, yaitu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara.

Perjuangan fisik atau konfrontasi merupakan salah satu bentuk perjuangan bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Meskipun menghadapi musuh yang memiliki persenjataan lebih lengkap, rakyat Indonesia tetap berjuang dengan semangat pantang menyerah demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih.

a) Pertempuran Lima Hari di Semarang (14–19 Oktober 1945)

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, tentara Jepang yang masih berada di Indonesia belum sepenuhnya melucuti senjata. Di Semarang, tentara Jepang menolak menyerahkan senjata kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan para pejuang Indonesia. Sikap ini menimbulkan ketegangan karena rakyat Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan dan berusaha menjaga keamanan daerahnya sendiri.

Ketegangan semakin meningkat ketika beredar kabar bahwa tentara Jepang berencana meracuni sumber air minum di daerah Candi, Semarang. Kabar ini membuat rakyat resah karena dapat membahayakan keselamatan banyak orang. Untuk memastikan kebenaran berita tersebut, seorang dokter pejuang bernama Dokter Kariadi (sering ditulis Karladi) berusaha memeriksa sumber air tersebut.

Namun, dalam perjalanan menuju lokasi, Dokter Kariadi ditembak oleh tentara Jepang dan gugur pada 14 Oktober 1945. Gugurnya Dokter Kariadi membangkitkan kemarahan rakyat dan para pejuang di Semarang. Peristiwa ini menjadi pemicu terjadinya pertempuran besar antara rakyat Indonesia bersama TKR melawan tentara Jepang.

Pertempuran tersebut dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari di Semarang dan berlangsung selama 14–19 Oktober 1945. Selama lima hari, pertempuran terjadi di berbagai sudut kota Semarang. Rakyat dan TKR berjuang dengan semangat tinggi meskipun persenjataan mereka terbatas.

Akhirnya, pertempuran dapat dihentikan setelah Sekutu turun tangan untuk melerai kedua pihak. Peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang menunjukkan semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, meskipun harus menghadapi tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap.


b) Pertempuran Medan Area (Oktober 1945 – Desember 1946)

Tugu Muda meruakan monumen yang dibuat untuk mengenang jasa
para pahlawan yang gugur dalam pertempuran Lima Hari di Semarang
Sumber: Google

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, pasukan Sekutu datang ke berbagai daerah di Indonesia dengan alasan melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang. Di Medan, pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal T. E. D. Kelly mendarat di Pelabuhan Belawan pada 9 Oktober 1945. Kedatangan Sekutu ini diboncengi oleh NICA yang bertujuan untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia serta membebaskan dan mempersenjatai tawanan Belanda.

Awalnya, rakyat Medan bersikap waspada terhadap kedatangan Sekutu dan NICA. Ketegangan memuncak ketika pada 13 Oktober 1945, seorang tentara NICA merampas dan menginjak-injak bendera Merah Putih di Jalan Bali, Medan. Tindakan tersebut sangat melukai perasaan rakyat Indonesia dan memicu kemarahan besar.

Peristiwa tersebut menyebabkan terjadinya bentrokan antara rakyat bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan pasukan NICA dan Sekutu. Sejak saat itu, pasukan NICA dan Sekutu sering melakukan aksi teror dan kekerasan di Kota Medan, seperti penangkapan dan penembakan terhadap rakyat. Hal ini membuat perlawanan rakyat semakin meluas dan sengit.

Pada 1 Desember 1945, pihak Sekutu secara sepihak menetapkan batas wilayah kekuasaan di Kota Medan yang dikenal sebagai “Medan Area”. Penetapan wilayah ini semakin memperkeruh keadaan dan memicu pertempuran besar antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu–NICA. Pertempuran ini dikenal sebagai Pertempuran Medan Area yang secara resmi pecah pada 10 Desember 1945.

Pertempuran Medan Area berlangsung cukup lama, hingga 15 Februari 1947. Meskipun rakyat dan TKR memiliki persenjataan yang terbatas, mereka tetap berjuang dengan penuh semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini menjadi bukti keberanian rakyat Sumatra Utara dalam melawan upaya Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.


c) Peristiwa Bandung Lautan Api (23 Maret 1946)

Peristiwa Bandung Lautan Api
Sumber: Google

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pasukan Sekutu yang diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) datang ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kota Bandung. Kedatangan mereka bertujuan untuk melucuti senjata tentara Jepang, tetapi di balik itu NICA ingin mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.

Pada 12 Oktober 1945, pasukan Sekutu dan NICA tiba di Bandung. Mereka mengeluarkan ultimatum agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata dan mengosongkan Kota Bandung bagian utara. Permintaan tersebut ditolak oleh para pejuang Indonesia karena mereka tidak ingin Bandung dikuasai kembali oleh penjajah.

Situasi di Bandung semakin tegang. Untuk mencegah kota Bandung dimanfaatkan oleh Sekutu dan NICA sebagai markas militer, para pejuang bersama rakyat mengambil keputusan berat. Demi keselamatan rakyat dan perjuangan kemerdekaan, mereka memilih untuk meninggalkan Kota Bandung.

Sebelum meninggalkan kota, pada malam hari tanggal 23 Maret 1946, para pejuang membakar bangunan-bangunan penting di Kota Bandung bagian selatan. Tindakan ini dilakukan agar kota tidak dapat digunakan oleh musuh. Api yang berkobar di berbagai sudut kota membuat Bandung terlihat seperti lautan api.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama Bandung Lautan Api. Peristiwa Bandung Lautan Api menunjukkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air rakyat Indonesia. Mereka lebih memilih membakar kotanya sendiri daripada menyerahkannya kepada penjajah. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti nyata perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.



d) Pertempuran Ambarawa (20 November – 15 Desember 1945)
Monumen Palangan Ambarawa di bangun untuk memperingat
periistiwa pertempuran di Ambarawa
Sumber: Google

Pertempuran Ambarawa, yang juga dikenal sebagai Palagan Ambarawa, merupakan peristiwa penting perjuangan fisik rakyat Indonesia melawan pasukan Sekutu dan Belanda. Pertempuran ini terjadi di wilayah Ambarawa dan sekitarnya pada tahun 1945, tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Konflik bermula ketika pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Bethell tiba di Semarang pada Oktober 1945. Kedatangan mereka awalnya bertujuan untuk mengurus dan memulangkan tentara Belanda yang sebelumnya ditahan oleh Jepang di penjara Ambarawa. Namun, dalam pelaksanaannya, pasukan Sekutu justru membebaskan dan mempersenjatai kembali tentara Belanda, sehingga menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia.

Ketegangan berubah menjadi konflik terbuka pada 20 November 1945 antara pasukan Indonesia dan Sekutu–Belanda. Dalam pertempuran tersebut, Letnan Kolonel Isdiman, salah satu pemimpin pasukan Indonesia, gugur pada 26 November 1945. Gugurnya Isdiman semakin membangkitkan semangat juang tentara dan rakyat Indonesia.

Setelah gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, pimpinan perlawanan diambil alih oleh Kolonel Soedirman. Kolonel Soedirman memimpin tentara Indonesia dengan strategi yang terencana, termasuk taktik pengepungan terhadap pasukan Sekutu di Ambarawa.

Puncak pertempuran terjadi pada 12–15 Desember 1945. Dalam pertempuran sengit ini, tentara Indonesia bersama rakyat berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dan Belanda dari Ambarawa. Kemenangan ini menjadi bukti keberanian dan semangat pantang menyerah bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.



e) Pertempuran 10 November di Surabaya (10 November 1945)

Tugu Pahlawan ibangun untuk mengenang jasa dan perjuanganpara pahlawan dalam pertempuran 10 November 1945 melawan pasukan Sekutu
Sumber: Google

Pertempuran 10 November di Surabaya merupakan salah satu peristiwa paling besar dan heroik dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan semangat juang rakyat Indonesia yang rela berkorban demi mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Pertempuran ini diawali dengan kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya pada 25 Oktober 1945 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Tujuan awal kedatangan Sekutu adalah untuk melucuti senjata tentara Jepang serta membebaskan tawanan perang. Namun, dalam pelaksanaannya, pasukan Sekutu yang diboncengi NICA dianggap berusaha membantu Belanda kembali menguasai Indonesia.

Ketegangan meningkat ketika Sekutu menyebarkan selebaran yang berisi perintah agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata. Tindakan ini dianggap melanggar kesepakatan dan memicu kemarahan rakyat serta Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Akibatnya, bentrokan bersenjata pun terjadi antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu.

Untuk meredakan konflik, Presiden Soekarno datang ke Surabaya pada 30 Oktober 1945. Melalui perundingan, disepakati gencatan senjata antara kedua belah pihak. Namun, setelah Presiden Soekarno kembali ke Jakarta, situasi kembali memanas. Dalam kekacauan tersebut, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas, yang kemudian memperburuk hubungan antara Sekutu dan rakyat Surabaya.

Sebagai reaksi atas kematian Mallaby, pihak Sekutu mengeluarkan ultimatum pada 10 November 1945 yang berisi tuntutan agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan. Ultimatum ini ditolak oleh rakyat Surabaya. Akibatnya, pada tanggal tersebut pecahlah pertempuran besar-besaran antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu yang memiliki persenjataan lebih lengkap.

Pertempuran berlangsung sengit dan menelan banyak korban dari pihak Indonesia. Meskipun akhirnya Sekutu berhasil menguasai Kota Surabaya, perlawanan rakyat Surabaya menunjukkan keberanian dan semangat patriotisme yang luar biasa. Peristiwa ini menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.




PERJUANGAN DIPLOMASI DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, perjuangan tidak berhenti. Selain berjuang melalui pertempuran fisik, bangsa Indonesia juga melakukan perjuangan diplomasi, yaitu usaha mempertahankan kemerdekaan melalui jalur perundingan dengan Belanda dan pihak internasional. Diplomasi dilakukan karena Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia melalui agresi militer dan tekanan politik. Dengan jalan perundingan, Indonesia berusaha mendapatkan pengakuan kedaulatan secara sah dari dunia internasional.

1. PERUNDINGAN LINGGARJATI (1946)
Dalam perundingan tersebut, Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir
pihak Belanda diwakili oleh Wim Schermerhorn
Sumber: Google

Perundingan Linggarjati merupakan salah satu upaya diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya penjajahan Belanda. Perundingan ini berlangsung pada 11–15 November 1946 di Linggarjati, Cirebon, Jawa Barat, dan melibatkan perwakilan dari Indonesia dan Belanda.

Dalam perundingan tersebut, Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri. Sementara itu, pihak Belanda diwakili oleh Wim Schermerhorn. Perundingan ini juga dimediasi oleh wakil dari Inggris, yaitu Lord Killearn, untuk membantu mencapai kesepakatan antara kedua pihak.

Hasil utama dari Perundingan Linggarjati adalah pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia secara de facto, yaitu pengakuan atas kekuasaan Indonesia di wilayah Jawa, Sumatra, dan Madura. Selain itu, Indonesia dan Belanda sepakat untuk bekerja sama membentuk Negara Indonesia Serikat (NIS), yang nantinya terdiri atas Republik Indonesia dan negara-negara bagian buatan Belanda.

Kesepakatan lainnya adalah pembentukan Uni Indonesia–Belanda, yaitu kerja sama antara Indonesia dan Belanda yang dipimpin oleh Ratu Belanda sebagai kepala uni. Uni ini bertujuan mengatur hubungan kerja sama dalam bidang politik, ekonomi, dan pertahanan antara kedua negara.

Namun, dalam pelaksanaannya, Belanda tidak sepenuhnya menaati hasil Perundingan Linggarjati. Ketegangan kembali meningkat hingga akhirnya pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I ke berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra.

Tindakan agresi tersebut mendapat kecaman dari dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian turun tangan dan pada 1 Agustus 1947 mengeluarkan perintah gencatan senjata. Indonesia dan Belanda menyetujui perintah tersebut, sehingga Agresi Militer Belanda I secara resmi berakhir pada 4 Agustus 1947.


2. PERUNDINGAN RENVILLE (1948)

Perundingan Renville dilakukan di kapal perang Amerika Serikat,
USS Renvlle, di Teluk Jakarta
Sumber: Google

Perundingan Renville merupakan salah satu upaya diplomasi antara Indonesia dan Belanda setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I. Perundingan ini berlangsung mulai Desember 1947 hingga 17 Januari 1948 dan dilaksanakan di atas kapal perang Amerika Serikat USS Renville yang berlabuh di Teluk Jakarta. Tujuan utama perundingan ini adalah untuk menghentikan konflik bersenjata dan mencari penyelesaian damai antara kedua pihak.

Dalam perundingan tersebut, pihak Indonesia dipimpin oleh Amir Syarifuddin, sedangkan pihak Belanda diwakili oleh R. Abdulkadir Widjojoatmodjo. Perundingan ini dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui sebuah badan bernama Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri atas Amerika Serikat, Australia, dan Belgia sebagai penengah.

Hasil Perundingan Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948. Salah satu isi penting perjanjian ini adalah pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat (RIS). Wilayah Republik Indonesia menjadi semakin sempit, yaitu hanya meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta, sebagian Jawa Barat, dan Sumatra. Selain itu, disepakati pula adanya garis demarkasi (yang dikenal sebagai Garis Van Mook) sebagai batas antara wilayah Republik Indonesia dan daerah pendudukan Belanda.

Perjanjian Renville juga mewajibkan penarikan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari wilayah-wilayah yang telah dikuasai Belanda ke daerah Republik Indonesia. Ketentuan ini sangat merugikan Indonesia karena memperlemah posisi pertahanan dan mempersempit wilayah kekuasaan Republik.

Dalam pelaksanaannya, Belanda kembali melanggar perjanjian. Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dengan menyerang Yogyakarta, yang saat itu merupakan ibu kota Republik Indonesia. Dalam agresi ini, Soekarno, Mohammad Hatta, serta beberapa tokoh nasional lainnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka.

Meskipun para pemimpin ditangkap, perjuangan Indonesia tidak berhenti. Jenderal Soedirman memimpin perlawanan dengan taktik perang gerilya dari hutan ke hutan. Agresi Militer Belanda II mendapat kecaman keras dari dunia internasional dan mendorong PBB untuk kembali menekan Belanda agar melakukan perundingan dengan Indonesia.


3. PERJANJIAN ROEM-ROYEN (1949)

Perjanjian Roem-Royen di Jakarta
Sumber: Google

Perjanjian Roem–Royen merupakan salah satu upaya diplomasi penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah terjadinya Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Agresi tersebut menyebabkan ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta diduduki Belanda serta ditangkapnya para pemimpin nasional. Tindakan Belanda ini mendapat kecaman keras dari dunia internasional, terutama melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sehingga mendorong dilaksanakannya perundingan antara Indonesia dan Belanda.

Perundingan Roem–Royen dimulai pada 14 April 1949 dan berlangsung di Jakarta dengan pengawasan United Nations Commission for Indonesia (UNCI). Dalam perundingan ini, pihak Indonesia dipimpin oleh Mohammad Roem, sedangkan pihak Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen. Perundingan ini bertujuan untuk menghentikan konflik bersenjata dan mencari jalan menuju penyerahan kedaulatan Indonesia.

Hasil Perjanjian Roem–Royen secara resmi disepakati dan ditandatangani pada 7 Mei 1949. Salah satu isi penting perjanjian ini adalah kesediaan Indonesia untuk menghentikan perang gerilya serta kesediaan Belanda untuk melakukan gencatan senjata. Selain itu, Belanda juga sepakat untuk mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta dan membebaskan para pemimpin Republik Indonesia yang sebelumnya ditahan.

Isi penting lainnya dari Perjanjian Roem–Royen adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Konferensi ini bertujuan membahas penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia secara resmi dan menyeluruh.

Perjanjian Roem–Royen memiliki arti yang sangat penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Perjanjian ini membuka jalan bagi kembalinya pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta dan menjadi langkah awal menuju pengakuan kedaulatan Indonesia, yang akhirnya tercapai melalui Konferensi Meja Bundar pada akhir tahun 1949.


KONFERENSI MEJA BUNDAR (KMB) – 1949

Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda
Sumber: Google

Konferensi Meja Bundar (KMB) merupakan perundingan penting antara Indonesia dan Belanda yang bertujuan untuk mengakhiri konflik dan menyelesaikan masalah penyerahan kedaulatan Indonesia secara resmi. KMB dilaksanakan di Den Haag, Belanda, pada 23 Agustus hingga 2 November 1949, setelah adanya tekanan internasional dan rangkaian perundingan sebelumnya, seperti Perjanjian Roem–Royen.

Dalam konferensi ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta. Delegasi Belanda dipimpin oleh Johannes Henricus van Maarseveen. Selain itu, hadir pula Delegasi Negara-Negara Federal yang tergabung dalam Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) yang dipimpin oleh Sultan Hamid II. Konferensi ini juga diawasi oleh perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNCI, yang salah satunya diwakili oleh Tom Critchley.

Hasil utama Konferensi Meja Bundar adalah kesediaan Belanda untuk menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) selambat-lambatnya pada 27 Desember 1949. Dengan demikian, Indonesia secara resmi diakui sebagai negara yang berdaulat oleh Belanda. Selain itu, disepakati pula pembentukan Uni Indonesia–Belanda, yaitu kerja sama antara Indonesia dan Belanda dengan Ratu Belanda sebagai kepala uni, bukan sebagai kepala negara Indonesia.

Dalam KMB juga disepakati bahwa masalah Irian Barat belum langsung diserahkan kepada Indonesia, melainkan akan dibicarakan kembali paling lambat satu tahun setelah penyerahan kedaulatan. Kesepakatan ini kemudian menjadi salah satu sumber ketegangan antara Indonesia dan Belanda pada tahun-tahun berikutnya.

Setelah KMB, Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri atas negara-negara bagian dan daerah otonom (bukan hanya 7 negara bagian dan 9 daerah otonom secara baku, karena jumlahnya berubah-ubah). Pada 15 Desember 1949, Soekarno dilantik sebagai Presiden RIS, dan Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri RIS.

Namun, bentuk negara serikat tidak bertahan lama karena banyak rakyat Indonesia menolak sistem federal yang dianggap sebagai warisan politik Belanda untuk memecah belah bangsa. Akhirnya, pada 17 Agustus 1950, Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah itu, ibu kota negara dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta, yang kembali menjadi pusat pemerintahan nasional.

Untuk memahami lebih dalam tentang materi ini, mari kita menonton video berikut ini:


Setelah mempelajari materi tersebut, mari kita asah pengetahuan yang sudah dimiliki dengan bermain kuis yang ada di bawah ini. Pilih jawaban yang benar untuk mendapatkan nilai, dan pilih "Mulai" untuk memulai bermain kuis.




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar