KEDATANGAN BANGSA-BANGSA ASING KE INDONESIA




Kedatangan Bangsa-Bangsa Asing ke Indonesia
Indonesia sejak dahulu sudah dikenal sebagai negeri yang kaya akan hasil bumi, terutama rempah-rempah seperti cengkih, pala, lada dan kayu manis Rempah-rempah ini sangat dibutuhkan oleh bangsa-bangsa Eropa sebagai bumbu masakan dan obat-obatan. Karena itulah, banyak bangsa asing yang datang ke Indonesia untuk berdagang dan menguasai sumber rempah-rempah tersebut. Dari sinilah awal mula kedatangan bangsa-bangsa asing ke Indonesia.

Latar Belakang Kedatangan Bangsa Asing
  1. Faktor ekonomi: Indonesia dikenal sebagai “Tanah Surga Rempah-rempah” yang menghasilkan bahan dagangan bernilai tinggi.
  2. aktor politik: Banyak negara Eropa ingin memperluas kekuasaan dan memperkaya negara mereka dengan menjajah daerah baru.
  3. Faktor agama: Sebagian bangsa datang juga untuk menyebarkan agama seperti Islam, Kristen, dan Katolik.
Awalnya, kedatangan mereka bersifat perdagangan, namun lama-kelamaan berubah menjadi penjajahanBeberapa Bangsa Asing yang Datang dan Menjajah Indonesia, Antara lain SebaganBerikut:
 

Portugis dan Spanyol

Pada Tahun 1512, ekspedisidari portugis
yang dipimpin oleh Francisco Serrao
Sumber: Google

Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala dan cengkih. Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh bangsa-bangsa Eropa sebagai bumbu masakan, obat-obatan, dan pengawet makanan. Karena harganya sangat mahal, bangsa Eropa berusaha datang langsung ke sumber rempah-rempah. Salah satu wilayah tujuan utama mereka adalah Maluku.

Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang datang ke Indonesia. Portugis tiba di Maluku pada tahun 1512 dengan tujuan berdagang rempah-rempah. Pada awal kedatangannya, Portugis disambut baik oleh Kerajaan Ternate. Portugis diizinkan berdagang serta membangun benteng dan kantor dagang sebagai tempat pertahanan dan kegiatan perdagangan.

Ekspedisi bangsa Spanyol tiba di Maluku tahun 1521,
dipimpin oleh  ferdinand magellan,
Sumber: Google

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1521, bangsa Spanyol juga datang ke Maluku. Kedatangan Spanyol disambut baik oleh Kerajaan Tidore. Spanyol dan Tidore kemudian bekerja sama dalam perdagangan rempah-rempah serta mendirikan benteng pertahanan. Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan antara Portugis yang didukung Kerajaan Ternate dan Spanyol yang didukung Kerajaan Tidore.

Persaingan antara Portugis dan Spanyol semakin memanas karena kedua bangsa tersebut ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Untuk mengakhiri perselisihan tersebut, disepakati Perjanjian Saragosa pada tahun 1529. Dalam perjanjian ini ditetapkan bahwa wilayah Maluku menjadi kekuasaan Portugis, sedangkan Spanyol harus meninggalkan Maluku.

Setelah Spanyol pergi, Portugis semakin memperkuat kekuasaannya di Maluku dan mulai ikut campur dalam urusan kerajaan-kerajaan setempat. Tindakan Portugis tersebut merugikan rakyat dan menimbulkan penderitaan. Akibatnya, rakyat Maluku bersatu untuk melawan Portugis.

Perlawanan rakyat Maluku mencapai puncaknya saat dipimpin oleh Sultan Baabullah dari Kerajaan Ternate. Dengan semangat persatuan, rakyat berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1575. Setelah terusir, Portugis kemudian berpindah ke Pulau Timor.


Belanda

Bangsa Belanda datang ke Indonesia dengan tujuan utama berdagang rempah-rempah. Rempah-rempah dari Indonesia sangat diminati di Eropa karena harganya mahal dan sulit diperoleh. Oleh sebab itu, Belanda berusaha datang langsung ke sumber rempah-rempah di Nusantara agar memperoleh keuntungan besar.

Kedatangan pertama Belanda ke Indonesia terjadi pada tahun 1596 di Banten. Ekspedisi ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Namun, sikap Belanda yang kasar dan semena-mena membuat masyarakat Banten tidak menyukai kehadiran mereka. Akibatnya, Belanda diusir dari Banten dan gagal menjalin hubungan dagang yang baik.

Belanda tidak menyerah. Pada tahun 1598, mereka kembali ke Banten dengan sikap yang lebih baik. Ekspedisi ini dipimpin oleh Jacob Corneliszoon van Neck. Karena mampu menyesuaikan diri dan bersikap ramah terhadap penduduk setempat, kedatangan Belanda kali ini diterima dengan baik. Sejak saat itu, Belanda mulai aktif berdagang rempah-rempah di Indonesia.

Untuk menghindari persaingan antar pedagang Belanda sendiri, pada 20 Maret 1602 didirikan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC (Perserikatan Dagang Hindia Timur). VOC adalah perusahaan dagang yang mendapat kekuasaan besar dari pemerintah Belanda untuk mengatur perdagangan di Asia, termasuk di Indonesia.

VOC memiliki berbagai hak istimewa, antara lain memonopoli perdagangan rempah-rempah, memungut pajak, menyelenggarakan pemerintahan, memiliki tentara dan senjata sendiri, mendirikan benteng pertahanan, serta membuat perjanjian, menyatakan perang, dan mengadakan perdamaian dengan raja-raja setempat. Karena kekuasaan yang sangat besar ini, VOC bertindak seperti negara di wilayah Indonesia.

Namun, kekuasaan VOC akhirnya melemah. Pada 31 Desember 1799, VOC resmi dibubarkan. Penyebabnya berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi serta besarnya biaya peperangan. Faktor eksternal antara lain kekalahan Belanda dari Prancis, sehingga pemerintah Belanda mengambil alih seluruh kekuasaan VOC di Indonesia.

Lukisan antara tahun 1860 dan 1900 yang menggambarkan
jalan Raya Pos antara Sidanglaya dan Puncak dengan latar belakang Gunung Salak
Sumber: Google

Setelah VOC dibubarkan, Indonesia berada langsung di bawah pemerintahan Belanda. Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal. Daendels menerapkan berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat, seperti kerja rodi, perampasan tanah, serta pembangunan Jalan Raya Pos dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur).

Pada tahun 1811, Inggris menyerang Batavia dan berhasil mengalahkan Belanda. Kekalahan ini membuat Belanda menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada Inggris melalui Perjanjian Tuntang. Inggris kemudian berkuasa di Indonesia untuk sementara waktu.

Kekuasaan Inggris di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tahun 1816, Indonesia kembali dikuasai oleh Belanda. Penjajahan Belanda berlangsung sangat lama dan membawa banyak penderitaan bagi rakyat Indonesia. Penjajahan tersebut akhirnya berakhir setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.


Inggris

Bangsa Inggris pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1577. Tujuan kedatangan bangsa Inggris adalah untuk melakukan perdagangan, terutama perdagangan rempah-rempah. Wilayah yang menjadi tujuan perdagangan Inggris antara lain Maluku, Sulawesi, dan Jawa. Pada awalnya, Inggris hanya berdagang dan belum menguasai wilayah Indonesia secara langsung.

Inggris mulai berkuasa di Indonesia ketika berhasil mengambil alih kekuasaan dari Belanda. Hal ini terjadi melalui Perjanjian Tuntang pada tahun 1811. Berdasarkan perjanjian tersebut, Belanda menyerahkan sebagian wilayah Indonesia kepada Inggris. Sejak saat itu, Inggris berkuasa di Indonesia pada tahun 1811–1816, dan Pulau Jawa menjadi wilayah utama yang dikuasai Inggris.

Pada masa pemerintahan Inggris, jabatan Wakil Gubernur Jenderal dipegang oleh Thomas Stamford Raffles. Raffles dikenal sebagai pemimpin yang tertarik pada ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ia juga berjasa dalam dunia ilmu pengetahuan karena ikut memperkenalkan tumbuhan langka Rafflesia arnoldii. Tumbuhan ini ditemukan di hutan tropis Sumatra oleh Dr. Joseph Arnold bersama Raffles. Nama Rafflesia arnoldii diambil dari gabungan nama kedua penemunya.

Selain itu, Thomas Stamford Raffles juga menerapkan berbagai kebijakan pemerintahan selama Inggris berkuasa di Indonesia. Ia menghapus sistem kerja rodi dan mengganti sistem tanam paksa dengan sistem sewa tanah, yaitu rakyat membayar pajak atas tanah yang mereka garap. Raffles juga menghapus penyerahan wajib hasil bumi dan menggantinya dengan pembayaran pajak menggunakan uang.

Bersama ara ahli dari Inggris, Raffles juga menggagas berdirinya 
Kebun Raya Bogor (KRB) di Jawa Barat. Hingga Akhirnya, pemerintah
Hindia Belanda meresmikan berdirinya KRB pada tahun 1817
Sumber: Google

Dalam bidang pemerintahan, Raffles membagi wilayah Pulau Jawa menjadi 16 karesidenan agar lebih mudah diatur. Ia juga menjadikan bupati sebagai bagian dari pemerintah kolonial, sehingga bupati berperan sebagai pegawai pemerintahan. Selain itu, Raffles sangat mendukung perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan, salah satunya dengan membantu mengembangkan Kebun Raya Bogor sebagai pusat penelitian tumbuhan.

Kekuasaan Inggris di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tahun 1816, Inggris menyerahkan kembali wilayah Indonesia kepada Belanda. Meskipun singkat, masa pemerintahan Inggris meninggalkan pengaruh penting, terutama dalam bidang pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan sistem administrasi.

Untuk memahami materi ini lebih lanjut mari kita menonton video berikut ini:



Setelah mempelajari materi tersebut, mari kita asah pengetahuan yang sudah dimiliki dengan bermain kuis yang ada di bawah ini. Pilih jawaban yang benar untuk mendapatkan nilai, dan pilih "Mulai" untuk memulai bermain kuis.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar